EPISODE 2 “Ketika Menulis Menjadi Jalan”

Spread the love

Di sebuah sudut kampus yang mulai lengang menjelang sore, Zaki masih duduk di depan papan mading fakultas yang belum selesai. Potongan kertas berserakan di meja. Aroma lem kertas bercampur dengan debu ruang sekretariat mahasiswa yang mulai sepi. Di sampingnya, Beno terlihat sibuk menata tulisan-tulisan hasil ketikan mesin tik pinjaman senior.

“Masih kurang satu kolom lagi,” kata Beno sambil menghela napas panjang.

Zaki tersenyum kecil.
“Kalau begitu kita buat lagi.”

Mereka tertawa pelan.

Malam itu sebenarnya bukan malam yang istimewa. Tidak ada listrik padam. Tidak ada hujan deras. Tidak ada tepuk tangan penonton seperti dalam film-film perjuangan mahasiswa. Hanya dua anak muda biasa yang sedang mencoba menyelesaikan sesuatu dengan kemampuan seadanya.

Namun justru di situlah semuanya bermula.

Lomba majalah dinding tingkat fakultas itu awalnya hanya dianggap kegiatan biasa oleh banyak mahasiswa. Tidak terlalu bergengsi. Hadiahnya pun sederhana. Tetapi bagi Zaki, ada sesuatu yang membuatnya tertarik.

Ia menyukai prosesnya.

Menyusun kata demi kata.
Mencari judul yang menarik.
Merangkai ide agar orang lain mau berhenti sejenak dan membaca.

Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika tulisan yang dibuat dengan sungguh-sungguh akhirnya terpampang di papan besar dan dilihat banyak orang.

Beno adalah rekan yang cocok untuknya. Mereka sama-sama bukan mahasiswa populer. Bukan pula aktivis yang selalu menjadi pusat perhatian. Namun keduanya punya semangat yang aneh: jika sudah mengerjakan sesuatu, mereka ingin melakukannya dengan total. Tidak hanya mereka berdua yang menemani malam berlalu, masih ada Trisno yang membantu Beno mendesain gambar serta membuat ramalan Bintang ala anak kos.

Maka malam demi malam mereka habiskan di sekretariat.

Kadang ditemani kopi hitam dingin.

Kadang hanya air putih.
Kadang sambil menahan kantuk karena besok pagi harus tetap masuk kuliah.

Satu papan triplek penuh berhasil mereka selesaikan.

Lalu muncul ide lain.

“Bagaimana kalau kita tambah satu lagi?” tanya Zaki.

Beno menatapnya heran.
“Kau serius?”

Zaki mengangguk pelan.

Dan mereka benar-benar melakukannya.

Dua papan besar akhirnya dipenuhi tulisan, gambar, opini, puisi, humor kampus, hingga artikel ilmiah ringan yang mereka susun sendiri. Tidak ada komputer canggih saat itu. Semua dikerjakan dengan kesabaran dan kreativitas yang lahir dari keterbatasan.

Ketika hari penilaian tiba, Zaki sebenarnya tidak terlalu berharap menang.

Baginya, menyelesaikan dua papan besar itu saja sudah seperti kemenangan pribadi.

Namun pengumuman akhirnya datang.

Nama mereka disebut sebagai juara.

Sesaat Zaki hanya terdiam. Tepuk tangan terdengar di ruangan itu, tetapi pikirannya justru melayang jauh ke masa kecilnya di desa. Ia teringat bagaimana dulu ia sering merasa tidak cukup pintar dibanding teman-temannya. Tidak terlalu menonjol dalam pelajaran tertentu. Tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri sebagai pemenang lomba karya tulis.

Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki sesuatu yang benar-benar menjadi kekuatannya sendiri.

Menulis.

Sejak hari itu, Zaki mulai lebih sering mengisi buku catatan kecilnya dengan berbagai ide. Kadang tentang kehidupan kampus. Kadang tentang keresahan mahasiswa. Kadang hanya potongan kalimat yang tiba-tiba muncul di kepalanya saat berjalan menuju kelas.

Ia mulai menyadari satu hal penting:

Tidak semua orang harus bersinar dengan cara yang sama.

Ada yang unggul lewat angka.
Ada yang menonjol lewat penelitian.
Ada yang hebat dalam organisasi.

Dan mungkin… jalannya adalah lewat kata-kata.

Tanpa disadari, kemampuan menulis itu mulai membuka banyak pintu kecil dalam hidupnya. Ia menjadi lebih percaya diri berbicara di depan orang lain. Ia mulai berani menyampaikan pendapat. Bahkan beberapa dosen mulai mengenalnya sebagai mahasiswa yang aktif dan kreatif.

Menulis perlahan mengubah cara Zaki memandang dirinya sendiri.

Bukan lagi anak desa yang minder berada di tengah mahasiswa lain.

Tetapi seseorang yang mulai menemukan arah.

Dan arah itu ternyata akan membawanya jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

Sebab tidak lama setelah kemenangan mading itu, sebuah kesempatan baru mulai muncul—kesempatan yang kelak mempertemukannya dengan dunia pidato, organisasi, dan perjalanan yang semakin mendekatkannya pada kampus impiannya: ITB.

Namun saat itu, Zaki belum mengetahui semuanya.

Ia hanya terus menulis.

Karena tanpa sadar, setiap kata yang ia tuliskan sedang menuntunnya menuju masa depan.

Bersambung ke Episode 3 — Ketika Suara Mengubah Kepercayaan Diri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *